Folk Music Festival 2018, Berbicara Pertemuan Mengesankan di Awal Agustus

Suasana venue FMF siang hari

Tidur lah tidur dekap saja aku 
Aku di sampingmu 
Gusah kau risau
Malam kan pergi 
Esok burung-burung kan bernyanyi pagi 
Langit gempita 
Cemburu melihat 
Bintang benderang 
Berbisik rendah 
Menyulam saja
Membanjiri mimpimu warna-warna surga 
Kurenungi wajahnya 
Kuselami indahnya
 Kukabarkan pada pagi 
Sang fajar kan terbit dari matanya
-Matahari Terbit by Pohon Tua
 Assalamualaikuum...
holla temen-temen. Sudah rindu kah kalian pada euforia FMF2018?
Aku sudah rindu sehari sejak FMF 2018 selesai, sejak aku harus menerima kenyataan bahwa harus kembali ke Jember untuk magang. Tapi FMF tahun 2018 sudah cukup menjadi pelipur rinduku pada semesta dan makhluk-makhluk didalamnya. Uhuy.

Sama seperti tahun sebelumnya, FMF 2018 mempertemukan aku dan teman-teman sekolahku, urut banget mulai temen TK - SD - SMP dan SMK. Yaaa sekalian nostalgia lah sama  jaman-jaman sekolah yang masih belum kenal tugas kuliah.
Feraldi - Prima - aku - Yunus
Ga perlu tebak-tebakan lagi, it's a big YES kalau vibes syahdu FMF mampu menghpnotis kami di venue. Larut dalam setiap lagu dan performance para musisi sembari menyeduh kopi atau nyemil roti.  Masih ingat dengan lokasi FMF 2017? FMF 2018 juga diselenggarakan di Agro Kusuma, Batu loh. Bagi penonton yang sudah nonton FMF 2017 pasti sudah ngga asing dan bahkan ngga menemui kesulitan perihal parkir dan penginapan karna lokasinya yang strategis dan tidak terlalu jauh dari pusat kota Batu. Akupun juga begitu, berangkat mengendarai Varah (Vario Merah) sendirian dari Singosari sepertinya bukan hal yang sulit. Untungnya dia ngga rewel hehe.

FMF 2018 diselenggarakan dalam jangka waktu 3 hari. 1 hari untuk festival literasi, 2 hari untuk festival musik. Sayangnya aku ngga datang di festival literasinya, jadi aku ngga bisa bercerita banyak soal festival literasi ini. Maafkan.... plis maafkan..

Hiruk pikuk venue FMF malam hari
'Semakin malam semakin syahdu' sepertinya adalah sebuah ungkapan yang selalu cocok dengan festival musik seperti FMF. Hampir semua orang lebih memilih unuk duduk berdempetan daripada menghadapi dininnya kota Batu sendirian. Gimana? sudah terbayang kan serunya FMF kemarin?

Booth novel
Majalah yang bisa kamu baca sambil santai
di bagian belakang ada booth-booth merchandise. Official booth FMF, buku-buku, dan kawan-kawannya. Hmm rasanya pengen aku borong semua. Di salah satu booth juga menyediakan bukubuku dan majalah lokal untuk dibaca sembari menunggu guest star idaman. Beli juga boleh banget.

gemes banget kan displaynya
Di bagian lapangan bawah dikhususkan untuk booth booth makanan, minuman, dan  beberapa buah tangan. Jadi, pengunjung udah ngga usah bingung bawa makanan dan minuman dari luar, mau kopi? banyak, teh? banyak, sampe jamu tradisional dari ibuk-ibuk Kota Wisata Batu-pun ada. Karna malem itu sedikit lebih dingin, aku memutuskan buat jajan keripik dan minum kopi. Uuuuh felt much better.

angkringan juga ada looo
Lapangan bawah bagian stan makanan

eh nemu booth buku lagi
Eits, karna tubuh kita seperti rantai sirkulasi makanan, kalau ada makanan yang masuk, pasti harus ada yang dikeluarkan. Panitia juga sudah menyediakan beberapa toilet di area venue, tapi harus tetap antri dengan tertib yaa..

Mari bergeser pada guess starsnya,  hari pertama dibuka dengan "Makan Sayang dan Bincang Santai bersama Cast Aruna & Lidahnya". Tahu dong film Indonesia berjudul Aruna & Lidahnya. Makan sayang mengajak kita benar - benar makan siang bersama Dian Sastro, Nicholas Saputra, dan kawan - kawannya. Hayoo wahai generasi 90an angkat tangannya yang ngefans berat sama artis papan atas mulai jaman SD?

FMF juga punya program 'Gang of Folk'. Sudah tau apa itu 'Gang of Folk'? program ini membuka pintu lebar-lebar bagi band-band folk tanah air untuk berbagi panggung bersama musisi-musisi di FMF. Band yang beruntung menjajal panggung tahun ini adalah Sepertigamalam, Arief S. Pramono, Holaspica, dan Diroad.

Pada hari kedua FMF, Gang of Folk menyuguhkan Sepertigamalam. Sebuah proyek apik seoroang solois asal Pontianak bernama Ferdy yang menghadirkan suasana lain khas pedesaan dengan perpaduan syahdu suara gemercik air, bambu, dan petkan guitarlele. Hmm penasaran? Boleh banget tonton videonya Sepertigamalam di sepertigamalam_music . Musisi kedua yaitu Arief S. Pramono. Pemuda asal Parepare ini datang jauh dari timur Indonesia dan menghadirkan nuansa folk balada yang dijamin membuat kita terbuai dalam lagu-lagunya. Untuk teman-teman yang belum kesampaian menyaksikan secara langsung atau untuk yang rindu sama lagu-lagunya, yuk lah kita tonton bersama official music videonya Arief S. Pramono.

Pada hari ketiga FMF, dua musisi Gang of Folk lainnya adalah Holaspica, dan Diroad. kalau Arief S. Pramono datang dari timur Indonesia, kita akan dibawa melompat jauh ke barat Indonesia oleh Holaspica. Holaspica sendiri adalah proyek solo seorang 'mbak cantik' dari kota Bandar Lampung bernama Virdyas Eka Diputri. Holaspica membuat kita akrab dengan suara gitar dan lantunan syair merdu namun ringan di telinga. Yuk, kita Naik Ke Laut bersama Holaspica. Musisi terakhir Gang of Folk di hari ketiga adalah Diroad. Band dari kota Palembang yang khas dengan makanan pempek ini beranggotakan tiga orang pria dan seorang wanita cantik. Diroad menyuguhkan musik bernuansa melayu komplit dengan bahasa Basemah semakin menunjukan bahwa Indonesia memiliki beragam budaya yang patut kita lestarikan. Setuju tidak? mari singgah sebentar pada lagu "Pilumu Cinde" dan merasakan langsung ironi yang disampaikan.

Menurutku, FMF 2018 sudah membuat revisi dari FMF sebelumnya dan ini jauh lebih baik, mulai dari parkiran motor yang lebih dekat, jumlah loket tiket, jumlah toilet portable, space khusus untuk makanan dan literasi, hingga jumlah stage dari (tahun 2017) hanya satu menjadi (tahun 2018) dua yang otomatis membuat pergantian musisi semakin cepat dan efisien. Sayangnya aku dan teman-temanku kurang strategi, hehe. Harusnya kami nonton di bagian tengah antara stage satu dan stage dua dan tidak teerlalu maju. Hmm... teruntuk teman-teman readersku yang budiman, kalau suatu saat ada konser atau festival musik yang stagenya ada dua, bisa  banget tips dari aku diaplikasikan. Aku jamin kalian bisa menikmati musik dari dua panggung dengan seimbang dan syahdu.

"kalau ada dua stage yang berampingan, ambilah tempat untuk duduk di tengah antara stage 1 dan 2 serta jangan duduk terlalu maju atau terlalu ke belakang. Sesuaikan lah intinya hehe" -Omnivorah
 Suasana FMF berhasil bikin aku lupa buat merekam dan mengabadikan momen di beberapa penampilan, tapi ini beberapa foto dan sajian favoritosku yang aku 'gak boleh' lupa. But over all, semua musisi buagus buanget. Dengan tiket yang lumayan mencekik dompet mahasiswa rantauku, aku bisa bilang ini lebih dari sepadan. Semoga kita bisa dipertemukan dengan event event megah seperti ini lagi.

Danilla

Cici satu ini memang tidak bisa diskip begitu saja. Musisi yang tidak pernah luput dari rokok ini tetap saja memukau dengan rambutnya yang digerai, kemeja hitam dan ripped jeansnya.
Efek Rumah Kaca X Adrian Yunan
FMF juga mempertemukan kembali aku dan ERK komplit dengan bang Adrian Yunan. Siapa sih yang ngga kenal ERK?  Band legend yang mulai meroket kembali bersamaan dengan lagu 'Seperti Rahim Ibu' untuk soundtrack program televisi Mata Najwa. Untuk Pertama kalinya pula aku nonton langsung lagu ini dibawakan diatas panggung komplit dengan antusiasme penonton yang awalnya duduk, jadi berdiri memenuhi bagian depan stage.

Fourtwnty
Dilanjutkan dengan Fourtwnty di hari ketiga membuat suasana malam semakin hangat. Bagaimana tidak, Ari lesmana mengajak penonton membuat lautan cahaya sembari menyanyikan bait lagu 'Zona Nyaman'.
"Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi
Sembilu yang dulu
Biarlah membiru
Berkarya bersama hati"
Hayoooo siapa yang baca sambil nyanyi??
WSATCC
Dan closing yang super jegler dipersembahkan oleh mbak Sari dan kawan kawannya dalam White Shoes and The Couple Company (WSATCC). WSATCC membawa memori kita pada lagu lagu lawas yang kalau orang tua kita dengar pasti bilang "lagunya sapa sih ini kok dulu kayak ga pernah dengar?".

FMF 2018 sudah lebih dari cukup untuk memberikan memori-memori indah untuk kita semua. Bukan hanya sekedar berlibur ke kota wisata Batu, tapi juga bertemu musisi idaman, menjalin hubungan dengan orang-orang baru, berbagi ilmu dan cerita, mencicipi kuliner khas nusantara, dan pastinya menikmati musik bersama. Yaaa seperti inilah wujud festival yang sebenarnya. Terima kasih untuk seeeeeemua panitia, seeeemua penjual-penjual makanan dan merchandise, dan seeeeemua musisi beserta krunya, dan khususon terimakasih untuk om Alek Kowalski yang sudah merancang dan merealisasikan Folk Musik Festival di Indonesia.

Eh terima kasih juga untuk seeeeemua pembacaku, semoga artikel kali ini bisa sedikit mengobati rasa rindu akan suasana Folk Musik Festival. Sampai jumpa lain waktu, semoga sehat selalu.

Dari aku yang rindu,
Omnivorah

YOU MIGHT ALSO LIKE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ohalo temen-temen readers, Terimakasih sudah mampir ke Secangkir Sore. Jangan lupa tinggalkan komentar ya, supaya aku tau kalo kamu jalan-jalan ke blog-ku. Salam kenal~