Aaaassalamualaikuum,
Kali ini aku pengen mengajak temen-temen reader buat jalan-jalan di kota tempatku pulang, Malang. Cerita ini berawal sejak beberapa bulan yang lalu (20/10) band indie asal Malang bernama 'Wake Up Iris!' lagi manggung di Jember, di debuah acara tahunan, 'CAMPFEST'. They were amazing! aku terkagum-kagum karna ngga sempat nonton perform mereka di FMF 2018. Sehari setelah itu, mbak Vania (vokalist Wake Up Iris!) mengupdate story di instagram, mereka lagi ada di suatu tempat bernama Hondje. Di dalam frame ada mbak Vania yang wajahnya lagi girang banget dengan segelas minuman, kursi rotan, dan background dedaunan, hmm... coba deh dibayangin. Langsunglah aku stalking akun istagram bernama @hondje.id ini. Coba tebak apa yang aku temuin? well, aku ngga mau mendeskripsikan apa yang aku temuin di instagram, coba kalian stalking sendiri haha!
Selasa sore, 23 Oktober 2018
Aku memutuskan buat pulang ke Malang dengan niat awal cuman 'njemput Varah' (btww Varah ini motorku yang sudah menemaniku di aspal dan di alas). Buatku, pulang adalah suatu keiatan yang selalu bikin deg-degan. Bertemu lagi sama orang tua, mas dan mbak, kucing-kucingku, dan bertemu lagi dengan kegiatan makan buah dan minum teh di rerumputan pekarangan rumah adalah hal yang selalu aku nanti setiap bulannya. Terlebih lagi, hal yang paling menggembirakan waktu pulang adalah ketemu papa yang selalu semangat jemput di pinggir jalan raya padahal udah hampir midnight. Kerutan di wajahnya waktu senyum selalu bikin baper. Hwuu, I love u to the moon and back...
Rabu, 24 Oktober 2018,
Aku dan temen SMK ku, Dhea memutuskan untuk ngeteh syantique di Hondje. Setelah meneliti dan menelaah google map, akhirnya dipertemukanlah kami dengan kedai teh mungil dan lucu di jl wijaya kusuma no. 5 malang. Temen-temen yang tau jalan Kalpataru, pasti tau jalan wijaya kusuma ini. Lokasinya tepat di kanan jalan ngga jauh dari tikungan dan gampang banget ditemukan.
Saat masuk di Hondje, temen-temen akan disambut hangat oleh salam-salam dari owner dan beberapa penggunjung di sana (kalau memang lagi ada pengunjung), serta beberapa hal unik yang membuat Hondje berbeda dari kedai-kedai teh lainnya. Hal unik pertama adalah kita wajib melepas alas kaki sebelum masuk Hondje. Dikarenakan tempatnya yang minimalis, Hondje memperbolehkan pengunjung duduk dimanapun, termasuk di lantai. Ngga asik dong kalau harus lesehan di lantai yang kotor. Keunikan kedua di Hondje adalah kenalan sama ownernya. Namanya mbak Icha, buaik buanget, kami sempat ngobrol banyak tentang Hondje dan sekitarnya.
Tepat di kanan meja pesan, ada buku-buku bacaan berjajar rapih siap untuk dibaca. Waktu itu mbak Ica merekomendasikan sebuah buku biru berjudul 'Kitab Suci Kesatria Cahaya' ada cerita menarik dibalik buku ini. Aku pengen banget kasih bocoran sedikit tentang buku ini, tapi aku lebih pengen temen-temen dapet kisah ini langsung dari mbak icha. Gimana? sudah mulai penasaran?
Yuk mari bergeser ke belakang.
Sore itu aku memesan mint-tea dan rose-tea. Karena di dalam ruangan kursinya sudah full, jadi aku dan Dhea memutuskan buat duduk di halaman belakang. Daaaaaamn it felt like home, aku duduk di kursi rotan 'singgasananya sejuta umat' dan dihiasi rimbbunnya dedaunan di belakangku sembari menunggu teh kami jadi. Halaman belakang ini cocok banget buat ngobrol santai. Temen-temen yang ngerokok ngga perlu sungkan untuk merokok karena tempatnya outdoor. Ada jendela yang langsuk mengarah masuk ke dalam ruangan juga lo, memungkinkan banget kalau temen-temen mau berinteraksi dengan orang-orang di dalam ruangan. Biarpun lokasinya di pinggir jalan, Hondje ngga berisik dengan lalu-lalang kendaraan loh, bahkan ngga akan merusak suasana kegiatan baca bukumu.
Rabu, 24 Oktober 2018,
Aku dan temen SMK ku, Dhea memutuskan untuk ngeteh syantique di Hondje. Setelah meneliti dan menelaah google map, akhirnya dipertemukanlah kami dengan kedai teh mungil dan lucu di jl wijaya kusuma no. 5 malang. Temen-temen yang tau jalan Kalpataru, pasti tau jalan wijaya kusuma ini. Lokasinya tepat di kanan jalan ngga jauh dari tikungan dan gampang banget ditemukan.
Saat masuk di Hondje, temen-temen akan disambut hangat oleh salam-salam dari owner dan beberapa penggunjung di sana (kalau memang lagi ada pengunjung), serta beberapa hal unik yang membuat Hondje berbeda dari kedai-kedai teh lainnya. Hal unik pertama adalah kita wajib melepas alas kaki sebelum masuk Hondje. Dikarenakan tempatnya yang minimalis, Hondje memperbolehkan pengunjung duduk dimanapun, termasuk di lantai. Ngga asik dong kalau harus lesehan di lantai yang kotor. Keunikan kedua di Hondje adalah kenalan sama ownernya. Namanya mbak Icha, buaik buanget, kami sempat ngobrol banyak tentang Hondje dan sekitarnya.
Tepat di kanan meja pesan, ada buku-buku bacaan berjajar rapih siap untuk dibaca. Waktu itu mbak Ica merekomendasikan sebuah buku biru berjudul 'Kitab Suci Kesatria Cahaya' ada cerita menarik dibalik buku ini. Aku pengen banget kasih bocoran sedikit tentang buku ini, tapi aku lebih pengen temen-temen dapet kisah ini langsung dari mbak icha. Gimana? sudah mulai penasaran?
Yuk mari bergeser ke belakang.
Sore itu aku memesan mint-tea dan rose-tea. Karena di dalam ruangan kursinya sudah full, jadi aku dan Dhea memutuskan buat duduk di halaman belakang. Daaaaaamn it felt like home, aku duduk di kursi rotan 'singgasananya sejuta umat' dan dihiasi rimbbunnya dedaunan di belakangku sembari menunggu teh kami jadi. Halaman belakang ini cocok banget buat ngobrol santai. Temen-temen yang ngerokok ngga perlu sungkan untuk merokok karena tempatnya outdoor. Ada jendela yang langsuk mengarah masuk ke dalam ruangan juga lo, memungkinkan banget kalau temen-temen mau berinteraksi dengan orang-orang di dalam ruangan. Biarpun lokasinya di pinggir jalan, Hondje ngga berisik dengan lalu-lalang kendaraan loh, bahkan ngga akan merusak suasana kegiatan baca bukumu.
Ngga cuma itu, Hondje memberikan kudapan-kudapan sehat seperti semangka, mangga , atau melon saat siang sampai sore hari, dan ubi dan pisang rebus saat sore hingga malam hari. "karna kenapa se, kan kadang orang itu males buat beli mangga sekilo, melon atau semangka satu buah buat dikupas sendiri, dikonsumsi sendiri, jadi yaaa pengenku Hondje ini memfasilitasi orang-orang malesan kayak gitu hehe", kata mbak Icha sore itu.
Dan ternyata, kedai Hondje ini termasuk baru pindah loh, hondje yang sebelumnya masih berkonsep Tea Corner dalam gerobak, tapi antusiasme pengunjung hondje semakin kesini semakin bagus mulai dari anak-anak kecil sampai orang dewasa. Dari Hondje pula mbak Icha punya banyak temen, dan mempertemankan pengunjung-pengunjungnya. Ngga jarang pula mereka melakukan self-service berupa naruhnaruh cucian piring sendiri, ngaturin parkiran, bantuin beli galon... karna mereka sekali dua kali berkunjung sudah bisa akrab dan ikut merasa memiliki Hondje. (jan sumpah koyok omahe mbahe dewe = beneran kayak rumah nenek sendiri) Suasanya jadi kayak lagi di rumah nenek, kumpul sama sepupu-sepupu, ngobrol dan sharing banyak hal, makan buah ,ubi dan pisang rebus, duh gimana mau ga betah sih?
Hal unik lainnya adalah take away. Biasanya kalo kita beli minuman take away ya udah di cup, diplastikin, terus dibawa pulang gitu aja kan. Di Hondje kalo take away kantongnya pake kantong kertas, dan dapet bonus bibit tanaman loh.. tapi selagi persediaan masih ada hehe. Lumayan kan dikasih tanah bisa bermanfaat pula kalo udah tumbuh. Ngga itu aja loh, penghasilan Hondje juga dipecah-pecah untuk beli makanan kucing dan makanan burung. Ah ada satu lagi bernama 'Pending Tea' apa itu pending tea? pending tea itu semisal kita beli satu cup teh, tapi kita bayar tiga, nah yang dua ini masuk ke dalam pending tea yang nantinya akan diberikan pada homeless atau orang yang membutuhkan.
Dari sebuah kedai teh dan kesederhanaan, I'm proudly invite all of you into Hondje. Selamat bertemu sepupu-sepupu jauh yang muncul entah dari mana. Selamat berbagi apapun itu yang bisa dibagi. Selamat menikmati rumah nenek dimanapun nenekmu berada. Selamat Hondje!
Dariku yang jauh,
Omnivorah
recomended bangettt
BalasHapusBoleh nih dicobak...
BalasHapus